Aku bahkan tak tau apa arti rasa ini...???
Saat ku terbangun dalam pekatnya malam, hanya wajahmu yang ku ingat.
Aku sadar akan posisi ku, posisi yang siapapun bahkan enggan memikirkannya. Ya, menjadi orang ketiga dalam hubunganmu. Menjadi orang yang merebutmu darinya, menjadi orang yang teramat jahat kurasa. tapi apalah daya, cinta ini sudah terlanjur kurasa. meski aku tahu ku tak mungkin milikimu.
Salah kah jika aku mengharapkan mu, mengharap kamu jadi milikku. menyisihkan dia yang tlah lebih dulu bersamamu.
Tak adil rasanya bagiku, saat kita miliki rasa yang sama namun tak dapat bersatu. siapa yang patut dipersalahkan...??? kita kah...??? atau mungkin keadaan...???
Tuhan, jika bisa ku memilih. Jangan biarkan kami bertemu, jangan biarkan rasa ini terus tumbuh. matikanlah rasaku padanya.
tapi takdir ternyata lebih kuat dibanding ratapanku yang sedang merindu.
akankah cinta ini menjadi nyata, atau sekedar angan jiwa.
aku hanya berharap yang terbaik.
dengan atau tanpa dia di sampingku.
Tuhan, jikalau memang aku jodohnya maka permudahlah kita untuk bersama.
namun jika bukan, maka buatlah aku melupakannya.
rasa ini menyiksaku Tuhan.
Tolong, tunjukkan kuasa-Mu.
Cacaka atau kepompong adalah bakal serangga (dalam hal ini kupu-kupu) yang berada dalam stadium (kehidupan) ketiga sebelum berubah bentuk menjadi kupu-kupu yang cantik, biasanya terbungkus dan tidak bergerak. Dalam fase ini, ulat yang dikenal sebagai mahluk yang menjijikan mengalami perubahan yang nantinya akan menjadi seekor kupu-kupu yang menawan. Sama hal nya dengan manusia, diharapkan bisa berkembang dan berubah menjadi pribadi yang lebih menawan dari masa ke masa.
Rabu, 26 November 2014
Surat Cinta ku
Surat
Terbuka Untuk Pria-ku
Untukmu, yang slalu kusebut dalam do’a...
Hey, sedang apa kamu sekarang?
Kubayangkan dirimu sedang tenggelam
ditengah kesibukan. Serius menatap monitor, kertas dan buku-buku yang
bertebaran di meja atau tengah asyik berbicang bersama kawan seperjuangan
sambil menghisap rokok kesukaanmu. Sadarkah dirimu, kamu selalu tampak lebih
gagah dan mempesona saat sedang berkonsentrasi penuh seperti itu?
Berani bertaruh, keberadaan kekasihmu
ini sedang tak sedikit pun berkelebat di pikiranmu. Kau kerap menyingkirkanku
demi bisa fokus mengejar impian. Tapi tak layak rasanya jika kuangkat suara
keberatan. Menyadari bahwa kau telah dipersiapkan sepatutnya membuatku merapal
syukur tak berkesudahan.
Aku
selalu membayangkan bagaimana nanti kita akan bertemu lagi. Apakah akan lucu,
romantis atau bahkan penuh kejutan? Apapun jalannya, aku berharap kelak kita
akan saling memandang mata dan tahu bahwa :
“Akulah
muara akhir petualanganmu. Kehadiranmu, mencukupkanku.
Dan
begitupun kamu, menjadi akhir dari pencarianku. Keberadaanmu, menenangkanku.”
Sayangku, yang namanya
selalu terapal dalam do’a dari fajar hingga ujung malam.
Sesungguhnya di setiap malamku, hanya
namamu yang slalu ku sebut dalam sujudku, dalam mimpiku dan dalam angan-anganku.
Betapa beruntungnya aku menemukanmu,
yang mencintaiku sebesar mencintai dirinya sendiri. Betapa sempurnanya hidupku
saat aku bisa mendampingimu sampai akhir hayat nanti. Menjadi istri dan ibu
yang baik bagi anak-anakmu kelak.
Ijinkan aku mengucapkan terima
kasih atas keberadaanmu
Terima kasih telah hadir dalam hidupku.
Kau mengorbankan waktu tidurmu, merelakan indahnya masa mudamu. Saat
teman-temanmu bermain dan begadang bersama. Kau lebih memilih bekerja mempersiapkan
diri untuk masa depan.
Kau memilih bekerja dibanding nongkrong
hingga pagi buta. Terima kasih atas kedewasaanmu.
Terima kasih sudah tumbuh jadi lelaki
yang bisa diandalkan. Kamu tak hanya lihai mengendarai sepeda motor dan mampu
membuatku merasa aman tapi kamu juga memang layak jadi panutan.
Kau memperlakukanku seperti
layang-layang. Membuatku terbang tinggi, tanpa pernah lupa menarik senar.
Bersamamu kutemukan kebebasan yang penuh penjagaan.
Maafkan aku yang belum bisa
sepenuhnya jadi wanita idamanmu
Diluar
sana masih banyak yang lebih cantik dibanding aku. Mereka yang lebih lihai
memadankan baju. Cerdik memulaskan pewarna di muka tanpa harus canggung
dihadapmu. Tapi kau menganggap semua aksesoris itu tak perlu.
Kau
ikhlas mengakrabi nadi di gurat leherku, kau pasrahkan liat tubuhmu pada tak
lentiknya jari tanganku. Tak jarang aku malu saat kita bercumbu, namun kau
lihai menyihirku jadi penggoda nomor satu: “hanya untukmu”.
Terima
kasih, untuk selalu menjaga hatiku.
Jika suatu hari kita bertengkar
hebat, tolong ingatlah…
Kita
bisa berubah jadi monster paling menyebalkan bagi satu sama lain. Kamu sudah
tak tahan lagi dengan omelan cerewetku. Bagimu aku sudah terlalu banyak bicara.
Aku pun tak lagi bisa mentoleransi kebiasaan burukmu di mataku.
Kamu
ingin aku menerimamu apa adanya. Aku berharap kau berubah. Kita saling
membentak. Jari tertuding tak mau kalah.
Saat
aku sedang keras kepala – peluk
aku dan ingatkan — mau tak mau salah satu dari kita harus diam.
Cinta bukan kompetisi yang perlu menghitung poin menang-kalah. Waktu kau lelah
menghadapi egoismeku, bicaralah. Kekasihmu ini tak pandai membaca kode tanpa
arah. Di titik kau tak mampu lagi dan ingin pergi, ingat kembali. Tuhan tak
mungkin mempersatukan kita hanya untuk semudah itu diakhiri.
Maka,
bersediakah kamu?
Maukah kau
jadi kawan terbaikku membangun masa depan? Jadi orang yang aroma badannya
kuhirup saban malam. Pria yang namanya tak pernah alpa kusebut di tiap sujud
dan tangkupan tangan. Kita akan memulai segalanya dari nol.
Sudikah
kamu jadi Bapak dari anak-anakku? Mereka yang akan kita dewasakan bersama.
Nyawa-nyawa baru yang akan kita biasakan untuk rajin membaca. Tak mengalah pada
kuasa tablet digital yang membuat mereka kian tak peka.
Akankah
kau mengijinkanku jadi wanita yang memiliki nama belakangmu? Menjadi pribadi
terhormat yang mengandung anak dari benihmu.
Maukah
kau menghabiskan masa denganku? Dengan rendah hati menerima segala kurangku.
Betapa aku akan bahagia saat akhirnya bisa jadi orang pertama yang kau lihat
setiap membuka mata.
Kita
akan menua bersama,ditemani tawa dan kerut yang makin nyata. Berjanjilah, tak
peduli nanti kita akan berselisih paham. Atau kekurangan uang. Saat
anak-anak kita berulah dan menyusahkan kau dan aku akan kembali saling menatap
untuk menemukan keyakinan : kita akan
tetap baik-baik saja.
Relakah
priaku, jika kau kudampingi sampai surga?
Salam terhangat untuk priaku,
Dari aku yang slalu mencintaimu.
Kekasihmu.
Langganan:
Komentar (Atom)