Senin, 08 Desember 2014

Akhirnya...

Akhirnya kau labuhkan hatimu padanya...
Membuat semua rasa hatiku mati...
Kini, kau tlah jadi miliknya...
Seperti tak ada lagi perasaan yang bisa ku pertahankan...


Akhirnya kau memutuskan menikahinya dan meninggalkanku...
Sakit... Pedih... Perih...
Hati ini beku, lidah ini kelu...
Membayangkan kau duduk di pelaminan bersamanya, bukan bersamaku...


Cinta ini teramat membekas, dalam sekali...
Entah bagaimana ku obati luka ini...
Entah apa yang harus aku lakukan sekarang...
Dan aku masih mencintaimu...
Aku masih menyayangimu...
Aku slalu menunggumu...


Jika aku bisa memilih, lebih baik ku matikan semua rasaku padamu...
Sama seperti saat kau mematikan asa dan harapku...
Tuhan, ijinkan aku bahagia...
Dengan atau tanpanya di sisiku...
"Happy Weeding for U...
"I'm still loving U....

Rabu, 26 November 2014

Rasa

Aku bahkan tak tau apa arti rasa ini...???
Saat ku terbangun dalam pekatnya malam, hanya wajahmu yang ku ingat.

Aku sadar akan posisi ku, posisi yang siapapun bahkan enggan memikirkannya. Ya, menjadi orang ketiga dalam hubunganmu. Menjadi orang yang merebutmu darinya, menjadi orang yang teramat jahat kurasa. tapi apalah daya, cinta ini sudah terlanjur kurasa. meski aku tahu ku tak mungkin milikimu.
Salah kah jika aku mengharapkan mu, mengharap kamu jadi milikku. menyisihkan dia yang tlah lebih dulu bersamamu.
Tak adil rasanya bagiku, saat kita miliki rasa yang sama namun tak dapat bersatu. siapa yang patut dipersalahkan...??? kita kah...??? atau mungkin keadaan...???
Tuhan, jika bisa ku memilih. Jangan biarkan kami bertemu, jangan biarkan rasa ini terus tumbuh. matikanlah rasaku padanya. 
tapi takdir ternyata lebih kuat dibanding ratapanku yang sedang merindu.
akankah cinta ini menjadi nyata, atau sekedar angan jiwa.
aku hanya berharap yang terbaik.
dengan atau tanpa dia di sampingku.
Tuhan, jikalau memang aku jodohnya maka permudahlah kita untuk bersama.
namun jika bukan, maka buatlah aku melupakannya.
rasa ini menyiksaku Tuhan.
Tolong, tunjukkan kuasa-Mu.

Surat Cinta ku

Surat Terbuka Untuk Pria-ku
Untukmu, yang slalu kusebut dalam do’a...
Hey, sedang apa kamu sekarang?
Kubayangkan dirimu sedang tenggelam ditengah kesibukan. Serius menatap monitor, kertas dan buku-buku yang bertebaran di meja atau tengah asyik berbicang bersama kawan seperjuangan sambil menghisap rokok kesukaanmu. Sadarkah dirimu, kamu selalu tampak lebih gagah dan mempesona saat sedang berkonsentrasi penuh seperti itu? 
Berani bertaruh, keberadaan kekasihmu ini sedang tak sedikit pun berkelebat di pikiranmu. Kau kerap menyingkirkanku demi bisa fokus mengejar impian. Tapi tak layak rasanya jika kuangkat suara keberatan. Menyadari bahwa kau telah dipersiapkan sepatutnya membuatku merapal syukur tak berkesudahan.
Aku selalu membayangkan bagaimana nanti kita akan bertemu lagi. Apakah akan lucu, romantis atau bahkan penuh kejutan? Apapun jalannya, aku berharap kelak kita akan saling memandang mata dan tahu bahwa :
“Akulah muara akhir petualanganmu. Kehadiranmu, mencukupkanku.
Dan begitupun kamu, menjadi akhir dari pencarianku. Keberadaanmu, menenangkanku.”
Sayangku, yang namanya selalu terapal dalam do’a dari fajar hingga ujung malam. 
Sesungguhnya di setiap malamku, hanya namamu yang slalu ku sebut dalam sujudku, dalam mimpiku dan dalam angan-anganku.
Betapa beruntungnya aku menemukanmu, yang mencintaiku sebesar mencintai dirinya sendiri. Betapa sempurnanya hidupku saat aku bisa mendampingimu sampai akhir hayat nanti. Menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anakmu kelak.
Ijinkan aku mengucapkan terima kasih atas keberadaanmu 
Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Kau mengorbankan waktu tidurmu, merelakan indahnya masa mudamu. Saat teman-temanmu bermain dan begadang bersama. Kau lebih memilih bekerja mempersiapkan diri untuk masa depan.
Kau memilih bekerja dibanding nongkrong hingga pagi buta. Terima kasih atas kedewasaanmu.
Terima kasih sudah tumbuh jadi lelaki yang bisa diandalkan. Kamu tak hanya lihai mengendarai sepeda motor dan mampu membuatku merasa aman tapi kamu juga memang layak jadi panutan.
Kau memperlakukanku seperti layang-layang. Membuatku terbang tinggi, tanpa pernah lupa menarik senar. Bersamamu kutemukan kebebasan yang penuh penjagaan.
Maafkan aku yang belum bisa sepenuhnya jadi wanita idamanmu
Diluar sana masih banyak yang lebih cantik dibanding aku. Mereka yang lebih lihai memadankan baju. Cerdik memulaskan pewarna di muka tanpa harus canggung dihadapmu. Tapi kau menganggap semua aksesoris itu tak perlu.
Kau ikhlas mengakrabi nadi di gurat leherku, kau pasrahkan liat tubuhmu pada tak lentiknya jari tanganku. Tak jarang aku malu saat kita bercumbu, namun kau lihai menyihirku jadi penggoda nomor satu: “hanya untukmu”. 
Terima kasih, untuk selalu menjaga hatiku.
Jika suatu hari kita bertengkar hebat, tolong ingatlah…
Kita bisa berubah jadi monster paling menyebalkan bagi satu sama lain. Kamu sudah tak tahan lagi dengan omelan cerewetku. Bagimu aku sudah terlalu banyak bicara. Aku pun tak lagi bisa mentoleransi kebiasaan burukmu di mataku.
Kamu ingin aku menerimamu apa adanya. Aku berharap kau berubah. Kita saling membentak. Jari tertuding tak mau kalah. 
Saat aku sedang keras kepala – peluk aku dan ingatkan — mau tak mau salah satu dari kita harus diam. Cinta bukan kompetisi yang perlu menghitung poin menang-kalah. Waktu kau lelah menghadapi egoismeku, bicaralah. Kekasihmu ini tak pandai membaca kode tanpa arah. Di titik kau tak mampu lagi dan ingin pergi, ingat kembali. Tuhan tak mungkin mempersatukan kita hanya untuk semudah itu diakhiri.
Maka, bersediakah kamu?
Maukah kau jadi kawan terbaikku membangun masa depan? Jadi orang yang aroma badannya kuhirup saban malam. Pria yang namanya tak pernah alpa kusebut di tiap sujud dan tangkupan tangan. Kita akan memulai segalanya dari nol.
Sudikah kamu jadi Bapak dari anak-anakku? Mereka yang akan kita dewasakan bersama. Nyawa-nyawa baru yang akan kita biasakan untuk rajin membaca. Tak mengalah pada kuasa tablet digital yang membuat mereka kian tak peka. 
Akankah kau mengijinkanku jadi wanita yang memiliki nama belakangmu? Menjadi pribadi terhormat yang mengandung anak dari benihmu.
Maukah kau menghabiskan masa denganku? Dengan rendah hati menerima segala kurangku. Betapa aku akan bahagia saat akhirnya bisa jadi orang pertama yang kau lihat setiap membuka mata.
Kita akan menua bersama,ditemani tawa dan kerut yang makin nyata. Berjanjilah, tak peduli  nanti kita akan berselisih paham. Atau kekurangan uang. Saat anak-anak kita berulah dan menyusahkan kau dan aku akan kembali saling menatap untuk menemukan keyakinan : kita akan tetap baik-baik saja.
Relakah  priaku, jika kau kudampingi sampai surga?

Salam terhangat untuk priaku,
Dari aku yang slalu mencintaimu.


Kekasihmu.